Kamis, 13 September 2012

Siapa yang pantas




Siapa yang pantas, yang bisa kuandalkan......

Kutipan lagu di atas mungkin tepatnya untuk menggambarkan apa yang terjadi sekarang ini di ibu kota Jakarta. Rakyat tengah menimbang siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin di periode baru ini. Apakah calon incumbent, atau Sang penantang.
Kata menimbang rasanya ingin ditarik dari tulisan di atas, dan diganti dengan kata melotere. Me-lotere, di ambil dari kata lotere yang berarti bentuk perjudian yang melibatkan penarikan banyak hadiah (sumber). Karena tentu saja janji-janji para calon yang membawa mimpi-mimpi manis pada rakyat yang memiliki hak pilih.
Secara pribadi saya ingin membuat penilaian atas kedua calon di atas, dari beberapa track record yang saya ketahui, entah dari media maupun pengalaman pribadi, sebagai seseorang yang telah 4 tahun tinggal di Jakarta, meskipun belum memiliki hak pilih. Rasanya cukup saja memberikan gambaran bagi saudara-saudara yang kebetulan memilih dan  masih bingung untuk melotere siapa.


Pihak Incumbent
Pihak ini adalah pasangan Foke Nara (Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli). Untuk Fauzi Bowo mungkin bagi rakyat Jakarta sudah terlihat bagaimana dia ketika melaksanakan janji-janji kampanye nya. Dengan catatan sebagai Gubernur DKI saat ini, rakyat bisa menimbang pantaskah dia kembali menjadi Gubernur.
Mari kita lihat beberapa keberhasilannya:
1. Penambahan koridor busway
2. Bis Kopaja AC dan berWIFI
3. Berobat gratis, bahkan di masa kampanye juga banyak disosialisasikan di puskesmas Jakarta bisa untuk operas jantung, karena sudah standar internasional
4. Sekolah gratis, langkah yang dilakukan terlambat, atau sengaja dilambatkan menunggu masa kampanye, karena justru dilakukan selama masa kampanye, bahkan di kartu sekolah gratis, terdapat tulisan bahwa itu diusulkan oleh sang Gubernur.

Untuk keadilan, mari kita lihat beberapa kegagalannya.
1. Kemacetan makin bertambah, yang uda tinggal di Jakarta tentu setuju. Gak percaya, cara mudah untuk membuktikannya adalah, apabila anda menggunakan mobil selama ini, cobalah beralih menggunakan motor selama beberapa bulan sebagai alat transportasi anda. Kemudian beralihlah kembali kepada mobil. Dan rasakan perbedaannya.
2. Arogan, bagi yang mengikuti perkembangan sang Gubernur, entah melalui media apa, bisa melihat banyaknya pemberitaan negatif dari sang Incumbent ini, bagaimana ketika terjadi kebakaran di suatu daerah di Jakarta, ucapannya sungguh tidak mencerminkan bahwa itu ucapan orang yang berpendidikan tinggi. Meskipun kemudian diklarifikasi bahwa itu adalah ucapan bercanda.
3. Keamanan Jakarta, bagaimana ormas-ormas yang mengalahkan Polisi dalam ketegasan dan keberanian, Satpol PP yang lebih suka menggunakan pentungannya serasa maen kasti, dan banyak kasus lainnya.
4. MRT, atau lebih gampang ngingatnya sebagai kereta api bawah tanah. Rencana yang bagus sebenarnya, tapi entah kenapa belum terealisasi sampai sekarang juga, membuat kesan bahwa ini dipolitisasi sangat terasa.
5. Kasus Korupsi, bagi yang pernah dengar beritanya, bukankah lucu apa bila seorang gubernur dilaporkan ke KPK oleh wakil gubernurnya sendiri.

Pihak Penantang
Adalah Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang menjadi penantang kali ini, dengan modal kemenangan di putaran pertama dan aliran dukungan masyarakat bahkan di luar kota Jakarta, pasangan ini menjadi lawan berat sang incumbent.
Jokowi saat ini merupakan walikota solo, yang telah menjabat selama 2 periode, bahkan pada periode ke dua Jokowi memenangkan suara 91% tanpa kampanye di Solo. Bisa dibayangkan betapa percayanya warga Solo kepadanya. Untuk track recordnya, beberapanya antara lain:
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. 

Beberapa contoh berita yang saya dapatkan di internet dari kedua calon tersebut. Mungkin agak tidak berimbang karena sangat susah ketika diri sudah mulai mencondong ke salah satu calon, meskipun gak memilih. Tapi, bukankah yang ditulis terserah yang nulis? :)
Secara pribadi, tentu saya lebih condong ke penantang, karena ya kita mungkin tidak bisa menjamin Jokowi berhasil kala memimpin Jakarta, tapi bukankah kita tahu bahwa nyatanya Foke gagal kala diberikan kepercayaan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar