Kamis, 20 Oktober 2011

Entrepreneurship

Angka kewirausahaan di Indonesia saat ini masih sangat sedikit dengan persentase dibawah 1% dari lebih dari 230 juta penduduk yang telah tersensus sampai saat ini. Hal ini merupakan suatu hal yang harus ditemukan solusinya. Berbagai cara yang dilakukan pemerintah dalam usaha mengenalkan dan menyukseskan jiwa entrepreneurship ke kalangan masyarakat. Untuk kalangan mahasiswa, pemerintah melalui DIKTI telah memulai langkah ini dengan mengadakan kompetisi pengiriman proposal kewirausahaan. Hal ini bisa terbilang sukses karena telah sekitar 10.000 mahasiswa yang aktif dalam program ini.
Berita ini tentu merupakan sesuatu yang cukup membanggakan bagi kelangsungan jiwa kewirausaan dan kemandirian bagi bangsa Indonesia kedepan nantinya. Diharapkan hal ini terus berkembang dan bisa untuk menularkan pengaruh positif dalam upaya pembentukan manusia Indonesia yang mandiri, kreatif serta inovatif. Namun tetap harus diwaspadai terjadinya miss orientation dari tujuan utama entrepreneurship. Mereka yang seharusnya mengembangkan potensi justru mulai terjebak pada kesenangan pragmatis berupa materi dari usaha yang dilakukannya karena menganggap bahwa itu merupakan standar dari keberhasilan dalam suatu kegiatan wirausaha.

Hal yang harus diingat, bahwa entrepreneurship atau kewirausahaan pertama kali muncul pada abad ke 18 ditandai dengan adanya penemuan-penemuan baru, seperti mesin uap, alat pemintal dan lain-lain. Tujuan utama dari mereka adalah untuk pertumbuhan dan perkembangan organisasi melalui inovasi dan kreativitas yang berkembang pula. Sama sekali tidak ada disebutkan bahwa kegiatan ini menekankan bahwa kekayaan materi sebagai alat ukur keberhasilannya sehingga harus diluruskan kembali pemahaman bagi calon-calon entrepreneur muda sebelum mereka terjun dalam dunia ini.
Dr. Suparman Sumahamidjaya menjelaskan bahwa maksud dari entrepreneurship adalah mewujudkan aspirasi dari kehidupan berusaha yang mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Jadi sangat salah jika kemudian entreprenurship dikembangkan dengan tujuan untuk memperoleh hal yang bersifat materi semata. Karena kekayaan dalam entrepreneur seharusnya hanya dijadikan sebagai suatu nilai tambah atau dianggap sebagai produk bawaan dari suatu usaha yang seharusnya berorientasi pada prestasi.
Keberhasilan dalan entrepreneurship tidak dilihat dengan seberapa kaya orang tersebut dalam usahanya, karena kekayaan bisa didapat dengan berbagai cara. Sebaliknya kewirausahaan lebih memandang bagaimana proses seseorang bisa menjadikan suatu usaha yang sebelumya tidak mempunyai bentuk menjadi ada dan berjalan. Karena seberapa kecilpun jenis usaha yang dilakukan, jika itu berjalan atas dasar dari hati untuk mengembangkan potensi dan opurtunity yang ada, maka itulah jiwa entrepreneur yang sebenarnya dicari.
Dalam pengembangan soul of entrepreneur, mengutip dari Gooffrey G. Meredith (1996;5-6), penulis menilai bahwa terdapat minimal lima ciri-ciri dari entrepreneur yang harus dimiliki dan dikembangkan. Pertama, seorang entrepreneur harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, hal ini meliputi keyakinan dan sikap optimisnya dalam menjalankan usahanya. Kedua, adalah berani mengambil resiko dan menghadapi tantangan.
Ketiga, seorang entrepreneur harus memiliki dan mengembangkan ciri khas dari usaha yang dilakukannya, kreatif dalam mengembangkan usahanya serta mau untuk bekerja sama. Keempat, orang tersebut harus memiliki pandangan jauh ke depan untuk kemajuan usahanya. Dan kelima, seorang wirausaha harus memiliki sifat yang jujur dan tekun dalam melakukan usahanya, karena hal ini merupakan modal utama dalam mencapai suatu keberhasilan.


Diharapkan dengan berkembangnya entrepreneurship di Indonesia, juga berkembang pula upaya dalam mengoptimalkan segala potensi yang belum tergali secara maksimal yang terdapat dalam masyarakat kita. Usaha yang bukan berorientasi pada untung materi belaka, tetapi juga menjadi usaha dalam aktualisasi jiwa inovatif dan kreatif bangsa ini agar dihargai sebagai bangsa yang mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar