Sabtu, 27 November 2010

Catatan Nazwarikzan

Aku tidak tahu apa yang sangat ingin ku tulis lagi mengenai perjalanan ini. karena aku mulai bingung pada alur yang digariskan Tuhan padaku. Kebingungan ini bukan tanpa sebab, jelas semua dikarenakan karna "modus operandi" dari Tuhan yang sangat tidak bisa ditebak, yaitu merubah hati manusia. dan kini aku yang tengah menjadi korban dari Garis Takdir yang telah ada.

Liku hidup ini dalam sebuah ruang lingkup hati, yang mereka namakan "Cinta". aku yakin setiap orang pernah merasakannya, sesuai dengan keadaan dan tingkatan usia yang ada padanya, namun yang ingin ku ceritakan bukanlah Cinta pada keluarga, karena menurutku hal itu tidak akan tergerus pada keadaan. Dan tidak akan terhapus oleh waktu. Bukan pula cinta oleh anak kecil pada barang yang disukainya, karena dengan perjalanan pikirannya akan membuatnya bertambah memahami hakikat dari benda, dan mengalami peningkatan "Objek" yang akan disukainya.,

Yang ingin ku adukan adalah cinta ketika kita mulai beranjak baligh. dan merasakan cinta pada lawan jenis yang umumnya sepantaran dengan kita (sepantaran dalam definisi masing2). Dan inilah yang tengah terjadi saat ini, kepadaku.

Aku bukanlah orang yang baru mengenal cinta untuk tahap ini, namun jelas bisa kukatakan, aku adalah orang yang baru merasakan sakitnya mencintai oleh tahap seperti ini.

Ini bukan hanya soal mencintai pada saat kita meyakini bahwa dia sempurna, tapi bagiku ini adalah soal mencintai dan mempertahankan kesetiaan yang telah tersumpah. Semenjak mengucap ikrar tuk saling merasakan rasa ini, ditunjukkan kenyataan bahwa pasangan kita sangat tidak sempurna dipandangan kita maupun orang-orang terdekat kita, Hingga saat kita menyadari bahwa untuk mempertahankan semuanya akan banyak yang harus dikorbankan.

Itulah yang aku sebut dengan cinta dan kesetiaan.

Bukan soal kita setia karena kita tengah merasakan indahnya cinta, karena itu adalah hal yang lumrah pada tiap manusia yang tengah merasakan manis-manisnya.

Tapi intinya adalah bagaimana kita tetap bertahan setia saat kita sedang tergerus keadaan, yang mengharuskan kita menghadapi sebuah persimpangan. Antara dua pilihan:

1. Mempertahankan apa yang telah, sedang, dan akan kita rasakan, atau

2. Memilih tuk berlalu dan berpikir bahwa Tuhan yang telah membuat kita tidak bisa bersatu

Karena jika bertanya padaku aku jelas tahu apa yang akan kupilih, aku akan sangat berjuang tuk membuat semua janji dan sumpah setia tuk saling mengikat diri menjadi sebuah kenyataan. Bukan hanya kata-kata saat tengah bahagia, lalu melupakan dan mencari gantinya saat "prospek" yang diharapkan mulai suram.

Karena itulah hakikat dari sebuah perjuangan demi cinta.

Bukan soal jodoh yang telah digariskan Tuhan, karena anak kecil juga tahu mengenai hal itu.

Tapi yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita memperjuangkan jodoh kita itu menjadi kenyataan. Meski tantangan yang akan dihadapi mungkin akan sangat menyakitkan hati.

Tapi itulah perjuangan soal cinta...

Semua orang sangat ingin untuk bahagia, dalam menghadapi kehidupannya, namun apabila dalam perjalanan cintanya terdapat sandungan, apakah lumrah jika berpaling pada cinta itu kemudian mencari pelabuhan yang lain? seakan cinta seperti sebuah baju yang indah.

Pada saat kita baru memiliki, akan sangat terbayang-bayang dalam pikiran kita, tak ingin diganti meski sudah berhari-hari tidak dicuci. Namun dengan berjalannya waktu, saat baju mulai terlihat kusam, atau sudah tidak muat lagi. Kita bisa dengan mudahnya untuk membeli baju yang lain...

Ini adalah masalah hati, kesetiaan yang seharusnya menjadi harga mati. Bukan kesetiaan saat kita merasa pas dengan suasana hati. Cinta seharusnya dijadikan pegangan, bukan hanya dijadikan patokan.'

Saat pertama kali berikrar tuk setia, maka jalankan semua karena ikrar itu bukan sekedar simbolitas belaka.

Tanpa memahami semuanya, maka menurutku sangat yakinlah bahwa kita tidak pernah akan mengerti kesucian dari sebuah komitmen dan cinta.

Semoga aku, kalian, dan mereka adalah orang-orang yang bisa menghargai hakikat dari cinta dan kesetiaan.

Dan aku, tengah menjadi korban atas pemikiranku sendiri terhadap cinta dan kesetiaan. Karena aku memilih tuk setia, atas semua kejadian dan keadaan yang telah digariskan Tuhan padaku.

Pada saat semua keadaan telah berubah, aku masih memegang teguh semua janji-janji yang pernah kuucapkan, masih mengingat jelas tiap detail apa yang pernah terjadi.

Aku masih saja mempertahankan cinta dan kesetiaan yang pernah ku ikrarkan padanya. Bahkan memaksakan diri serta dirinya untuk memperjuangkan kembali semua rasa dan kenangan yang pernah terjadi...

Meski ternyata hanya aku saja yang ingin berjuang...

Dan semuanya menjadi tusukan pedang yang teramat sakit pada saat ini.

Karena dia jelas tidak memahami semua itu lagi, "Keadaan telah berubah", katanya.

Namun tidak bagiku,....

dan sekarang aku hanya bisa berdamai dengan kehidupan, menikmati tiap rasa sakit yang ada. Mencoba mencari jawaban pada Tuhan, meski entah mengapa tak kunjung ditunjukkanNya padaku.

Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi esok, bahkan satu jam setelah ini. Mungkin rasa sakitku akan menutupi seluruh ruang hati yang sebelumnya telah kutempatkan namanya, atau mungkin justru terisi oleh lubang benci karena semua terjadi pada saat aku telah meyakininya.

Hanya satu keinginan yang pasti, aku ingin menemukan keikhlasan itu, hingga meski sakit ini tak jua hilang, sangat ingin aku tetap bisa berbahagia mengetahui dia telah menemukan prasasti janjinya yang baru.

Entah sampai kapan, "semua hanya masalah waktu", katanya.

1 hari telah lewat, 1 minggu juga sudah. sakit itu masih tetap terasa.

1 bulan, bahkan berkurangpun tidak...

1 bulan lagi, 3 bulan, 1 tahun....

10 tahun.....

atau mungkin harus seumur hidup semua sakit ini akan bersarang dalam hatiku.

Entahlah.....

Mungkin esok kan Tuhan tunjukkan jawaban padaku....

"Nazwarikzan" 11_5_09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar