Halaman

Tampilkan postingan dengan label Non Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Non Fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2012

Agama dan Pengetahuan

Beragama dengan akal jernih, entah kenapa sang penulis mengambil judul ini, mungkin dengan maksud agar para pembacanya akan mampu berpikir logis dalam beriman. Berpikir dengan logika matematika. Hukum pasti, begitulahn kira-kira yang bisa ku tangkap dari isi tulisan ini. Tulisan yang mengulas bahwa betapa telah banyak kesesatan ilmu pengetahuan karena sang pengilmu (scientist) merupakan orang-orang yang tidak mengindahkan hikmah atau iman dalam kehidupan mereka.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Perjalanan Sang Detektif Swasta

Entah ini novel keberapa yang telah ku baca dalam hidupku, namun yang pasti adalah novel kedua di Cilegon ini. Novel yang dibeli ama dedek di Senayan waktu ada pameran ini menceritakan seorang detektif swasta, bukan detektif dalam artian sebenarnya karena dia bekerja pada agen detektif, yang pemimpinnya justru bekerja dengan kejahatan. Meskipun itu ketahuan di akhir-akhir ceritanya. Buku yang menarik, menggelitik, dan jujur terjemahan Indonesia sangat out of the box. Luar binasa dari pemilihan katanya yang fulgar.


Jumat, 19 Oktober 2012

Korupsi dan Perubahan


Korupsi, kata yang seakan tidak memiliki awal dan akhir dalam suatu negara yang bernama Indonesia ini. Entah semenjak kapan kita telah akrab pada kata korupsi, ada yang berkata bahwa itulah sistem warisan Belanda semenjak jaman penjajahan, namun banyak pula yang berpendapat itulah mental kita yang telah ada semenjak Kerajaan menjadi bentuk pemerintahan di Nusantara. Tapi yang pasti, seperti kita bingung semenjak kapan korupsi ada, kita juga tidak memiliki kepastian kapan kata ini akan berakhir.

Kamis, 18 Oktober 2012

Pameo Puisi

Saini KM
Gak sengaja buka buku catatan yang sengaja dibeli semenjak awal masuk kuliah. Berarti uda berusia hampir 4 tahun tuh buku ada di gue. Buku yang awalnya khusus untuk nulis kutipan-kutipan dari buku yang gue baca. Dan sayangnya masih sangat sedikit sekali dari buku tersebut yang telah gue tulis. Kebanyakan gue tulis waktu gue masih aktif di LKM, organisasi penalaran di kampus gue, dan gue masih sangat keranjingan untuk membaca buku-buku yang meskipun pada saat itu belum terlalu gue pahamin. Yah, namanya juga masih belajar dalam membaca dan mengkaji.

Rabu, 17 Oktober 2012

Urbanisasi



Urbanisasi merupakan perpindahan dari penduduk desa ke kota dengan berbagai alasan yang ada. Urbanisasi juga merupakan proses pencarian kehidupan antara masyarakat dengan pengharapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik nantinya ketika berada di daerah tujuannya. Meskipun kenyataan yang mereka dapatkan mungkin saja akan terbalik dengan pengharapan tersebut. Sehingga alih-alih membantu perekonomian perkotaan sebagai domisili baru, mereka justru menjadi permasalahan baru.

Senin, 15 Oktober 2012

Terus Gue Mesti Bilang Wow Gitu???

"Terus gue mesti bilang wow gitu?"
Siapa yang belum pernah mendengar kalimat ini? Atau mungkin sudah biasa mengucapkannya. Tentunya dengan bahasa yang sudah disesuaikan dengan gaya bahasa pribadi yang digunakan. Seperti salah seorang supervisor yang ada di perusahaan tempat gue saat ini. Saat tengah memberi training, saat mungkin dia melihat kejenuhan yang terlihat di wajah peserta training. Dia berkata "terus saya harus bilang wow gitu" Sangat efektif untuk mencairkan suasana memang.

Sabtu, 13 Oktober 2012

The Secret Life of Bees

Novel pertama yang selesai dibaca semenjak menuju 2 bulan di Cilegon ini. Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Lily Owens yang melarikan diri dari rumahnya, dan mencari jejak kehidupan masa lalu ibu nya yang telah meninggal semenjak ia berusia 4 tahun karena kecelakaan. Lily melarikan diri karena tidak betah oleh kelakukan ayahnya yang sangat keras.

Jumat, 12 Oktober 2012

Berpikir Positif

Usai membaca buku "Terapi Berpikir Positif" yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky, banyak hal yang bisa ku petik mengenai betapa pikiran, yang sering tidak terlalu kita pikirkan memiliki peranan yang sangat penting. Siapa yang menyadari bahwa seseorang yang merasa hidupnya yang terasa selalu berkesusahan tak lepas karena pikirannya yang fokus pada hal negatif tersebut.


Rabu, 26 September 2012

Bagaimana aku menerima?

Pernahkah kita mendapatkan tawaran dari seseorang, entah bantuan melakukan pekerjaan, atau berupa benda, dan kita menolaknya? Jika pernah, berarti kita sepakat dalam hal ini.
Kita memiliki ego yang sangat alamiah untuk sebisa mungkin tidak akan merepotkan orang lain, memiliki hutang jasa, hingga kita terbebankan untuk membalasnya suatu saat nanti.

Senin, 17 September 2012

Perjalanan Spiritual Menemukan Keberadaan Tuhan

Judul Buku : Aku Beriman, maka Aku Bertanya
Penulis       : Jeffrey Lang
Penerbit     : Serambi
Tebal          : 338 + cover


" Aku merasa bergetar ketika membaca ayat ini. Aku bertanya pada diri sendiri: Apakah kau sedang berbicara padaku?"

Kamis, 13 September 2012

Siapa yang pantas




Siapa yang pantas, yang bisa kuandalkan......

Kutipan lagu di atas mungkin tepatnya untuk menggambarkan apa yang terjadi sekarang ini di ibu kota Jakarta. Rakyat tengah menimbang siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin di periode baru ini. Apakah calon incumbent, atau Sang penantang.
Kata menimbang rasanya ingin ditarik dari tulisan di atas, dan diganti dengan kata melotere. Me-lotere, di ambil dari kata lotere yang berarti bentuk perjudian yang melibatkan penarikan banyak hadiah (sumber). Karena tentu saja janji-janji para calon yang membawa mimpi-mimpi manis pada rakyat yang memiliki hak pilih.
Secara pribadi saya ingin membuat penilaian atas kedua calon di atas, dari beberapa track record yang saya ketahui, entah dari media maupun pengalaman pribadi, sebagai seseorang yang telah 4 tahun tinggal di Jakarta, meskipun belum memiliki hak pilih. Rasanya cukup saja memberikan gambaran bagi saudara-saudara yang kebetulan memilih dan  masih bingung untuk melotere siapa.

Rabu, 29 Agustus 2012

Rekonstruksi Demonstrasi Mahasiswa*


Kehidupan demokrasi Indonesia seakan tidak ada hentinya mengalami pergolakan. Masih belum tuntas masalah-masalah di negeri ini mengenai praktik korupsi dan tindak kejahatan lain yang terkait nama-nama dengan posisi penting di Indonesia. Kali ini yang menjadi sorotan adalah mahasiswa, sebagai kaum terpelajar dengan membawa nama sebagai agent of change karena aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya berujung pada tindakan anarkisme.
Demonstrasi dalam konteks negara demokrasi memang  merupakan sesuatu yang lazim terjadi. Demonstrasi sering dipandang sebagai  bentuk nyata dari aspirasi dan wujud dari kegerahan melihat keadaan yang abnormal. Ketika suatu kondisi  tidak berjalan dengan yang seharusnya terjadi, maka demonstrasi menjadi salah satu bentuk solusi yang ditawarkan.  Demonstrasi dianggap menjadi salah satu konteks kritik yang lebih efektif. Kritik terhadap keadaan yang ada, sekaligus menyelipkan harapan bahwa dengan adanya demonstrasi keadaan akan berubah sebagai mana mestinya.

Minggu, 30 Oktober 2011

Menakar Mutu Ala Indonesia



Pelaksanaan Ujian Nasional tetap berjalan, seakan tanpa halangan. namun bukan berarti tanpa penentang, berbagai kontroversi mengenai pelaksanaannya, terutama mengenai penggunakan UN sebagai standar mutu pendidikan masih juga bergema. Hal ini dinilai sebagai sebuah langkah pragmatis pemerintah untuk menaikkan prestise pendidikan Indonesia di mata dunia. Hal itu dikarenakan hasil belajar selama bertahun-tahun hanya diputuskan dalam beberapa hari, pelaksanaan Ujian yang dijadikan sebagai tolak ukur mutu pendidikan siswa dikhawatirkan akan menimbulkan banyaknya anak didik yang mendewakan kelulusan tanpa mendapatkan esensi dari pendidikannya itu sendiri.
Pengukuran mutu pendidikan yang hanya dilihat pada outputnya, seperti yang terdapat dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004, untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas, seakan memperlihatkan kenaifan pemerintah dalam menilai apa yang telah dipelajari anak didik selama bersekolah, padahal mutu yang sesungguhnya adalah bagaimana proses yang dilalui siswa itu sendiri selama proses pembelajarannya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Entrepreneurship

Angka kewirausahaan di Indonesia saat ini masih sangat sedikit dengan persentase dibawah 1% dari lebih dari 230 juta penduduk yang telah tersensus sampai saat ini. Hal ini merupakan suatu hal yang harus ditemukan solusinya. Berbagai cara yang dilakukan pemerintah dalam usaha mengenalkan dan menyukseskan jiwa entrepreneurship ke kalangan masyarakat. Untuk kalangan mahasiswa, pemerintah melalui DIKTI telah memulai langkah ini dengan mengadakan kompetisi pengiriman proposal kewirausahaan. Hal ini bisa terbilang sukses karena telah sekitar 10.000 mahasiswa yang aktif dalam program ini.
Berita ini tentu merupakan sesuatu yang cukup membanggakan bagi kelangsungan jiwa kewirausaan dan kemandirian bagi bangsa Indonesia kedepan nantinya. Diharapkan hal ini terus berkembang dan bisa untuk menularkan pengaruh positif dalam upaya pembentukan manusia Indonesia yang mandiri, kreatif serta inovatif. Namun tetap harus diwaspadai terjadinya miss orientation dari tujuan utama entrepreneurship. Mereka yang seharusnya mengembangkan potensi justru mulai terjebak pada kesenangan pragmatis berupa materi dari usaha yang dilakukannya karena menganggap bahwa itu merupakan standar dari keberhasilan dalam suatu kegiatan wirausaha.

Rabu, 19 Oktober 2011

Antisipasi Regenerasi Praktik Korupsi


Korupsi di Indonesia saat ini telah menjadi masalah yang sangat kronis. Ibarat sebuah penyakit, maka korupsi adalah suatu penyakit yang sudah menahun dan telah mencapai stadium empat, tetapi masih belum ada usaha yang sungguh-sungguh dari sang pemilik tubuh untuk mengobatinya agar penyakit tersebut tidak lagi diidapnya. Yang dilakukannya hanya sekedar langkah-langkah untuk mengurangi dan mengantisipasi penyakitnya semakin parah, Padahal untuk kasus seperti korupsi yang dibutuhkan sesungguhnya adalah pemberantasan dan penghentian sampai keakar-akarnya. Karena sampai saat ini telah banyak riset yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara dengan tingkat praktek korupsi tertinggi di dunia. Hal ini tentu bukanlah suatu prestasi yang seharusnya ditorehkan sebagai negara yang bersumber dan berlandaskan pada Pancasila, sebagaimana yang diimpikan oleh founding father pada saat meproklamirkan kemerdekaan bangsa.
Pemerintah tentunya bukan tidak mempunyai niatan untuk menghilangkan praktek korupsi di negeri ini, berbagai kebijakan-kebijakan telah di keluarkan untuk melakukan gerakan lawan korupsi. Bahkan cukup banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap sebagai sebuah terobosan yang nyata dalam memberantas korupsi tersebut. Tetapi kembali, semua sistem yang ada tidaklah berarti selama orang-orang yang menanganinya masih oknum-oknum yang bermentalkan “preman terdidik”. Sehingga sebagus apapun sistem yang ada, akan begitu mudah dimanipulasi sehingga terlihat seakan tidak terjadi apa-apa.