Selasa, 02 April 2013

Mengenal ISO dalam dunia fotografi

Kali ini mau reshare mengenai ISO, khususnya adalah ISO yang berkaitan dengan fotografi. Dan jujur aku juga sebelumnya gak begitu mengerti tentang ini. ISO yang aku ketahui adalah (sama) International Standar Organization namun ya enggak  berkaitan dengan hal fotografi. Yang baru dipelajari misalnya tentang standar manajemen mutu, HACCP, dan yang sejenis itulah yang kebetulan diaplikasikan di pekerjaan.
Dan kali ini, kita akan belajar mengenai ISO, jadi apa itu ISO?
Sebelumnya, kita mungkin perlu tahu sedikit mengenai sejarah ISO di bidang fotografi. Pada era analog menguasai bumi, film sebagai media perekam mengenal istilah kepekaan terhadap cahaya. Produsen film pada waktu itu sangat banyak dan menghasilkan produk film yang beragam. Istilah untuk menyebutkan tingkat kepekaan film ini disebut ASA (American Standart Association), atau DIN (Deutsch Industrie Norm), barulah kemudian distandarkan menjadi ISO.
Pada sensor baik CCD maupun CMOS, prinsip kerjanya hampir sama pada saat gambar yang datang dari lensa tentang sensor, maka tiap-tiap pixel tersebut akan menangkap energi cahaya yang datang dan mengubahnya menjadi besaran sinyal tegangan. Seberapa sensitif sensor mampu menangkap cahaya inilah yang dinyatakan dengan besaran ISO.
Peningkatan nilai ISO akan membawa efek negatif yang tidak diinginkan. Meningkatkan ISO berarti meningkatkan sensitivitas sensor, sehingga sinyal yang lemah pun akan menjadi kuat. Pada proses kerja sensor juga menghasilkan noise yang mengiringi sinyal aslinya. Bila ISO dinaikkan, noise yang awalnya kecil akan menjadi tinggi. Noise yang tinggi akan mengganggu pada hasil foto dan muncul berupa titik-titik warna yang tidak enak untuk dilihat.
Dalam fotografi, ada empat kelompok ISO yang dapat dipilih dan digunakan, yaitu:

1. Slow (ISO 25-64)
Biasanya digunakan untuk memotret untuk menghasilkan butiran atau permukaan cetakan yang halus dan berkontras rendah. Biasanya dipilih dan digunakan oleh pemotret profesional untuk memotret arsitektur atau stillife, pemotretan benda-benda mati.
Menggunakan standar ISO yang lambat akan menjadikan seorang fotografer selalu membutuhkan tripod sebagai penopang penahan goyah, terlebih bila menggunakan kombinasi pemakaian diafragma sempit, walaupun itu dilakukannya dalam cahaya yang terang.

2. Medum (ISO 100-200)
Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak digunakan. ISO ini sangat ideal untuk melakukan pemotretan di alam terbuka dalam cuaca terang.
Menghasilkan cetakan yang tajam dengan butiran-butiran yang masih tetap halus. Biasanya ISO ini banyak digunakan untuk pemotretan panorama, perjalanan wisata dan foto-foto dokumentasi keluarga.

3. Fast (ISO 400-800)
Film ini memiliki kemampuan yang baik untuk mengatasi keadaan dalam pemotretan yang kurang cahaya. Menggunakan film jenis ini akan menghasilkan foto dengan cetakan dengan butiran agak kasar. Akan tetapi, dngan menggunakannya akan memungkinkan memotret benda-benda yang bergerak cepat dengan baik dan tajam. Pemotret lebih leluasa dalam mengatur penggunaan diafragma. Umumnya foto-foto yang diambil dengan menggunakan cahaya alami akan menghasilkan hasil yang lebih baik atau menarik.

4. Ultra Fast (ISO 1000 ke atas)
Dirancang untuk mengatasi suatu pemotretan dimana cahaya yang ada sangat rendah atau memotret dengan menggunakan cahaya seadanya. Menghasikan cetakan dengan butiran-butiran yang tampak kasar, terlebih bila dicetak besar.
Namun, dalam perkembangannya apakah cepat ataupun sangat cepat dapat diperbaiki sehingga mampu menghasilkan mutu yang tak kalah dengan sedang. Dengan ISO ini bukan hanya ditunjukan untuk pemotretan yang cahayanya rendah, tetapi juga pemotretan yang mengandung gerak sangat cepat, sehingga mampu membekukan gerakan-gerakan seperti gerakan-gerakan dalam olahraga serta menawarkan sejumlah pemikiran kreatif dengan sengaja menampilkan efek butiran atau pecahnya sebagai suatu efek yang dianggap mengandung seni.


3palizar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar