Senin, 01 April 2013

Kamera LOMO

Weekend kemaren, akhirnya dihabiskan dengan liburan, bila kebanyakan orang liburan ke desa, pegunungan, atau yang jauh dari suasana kota, aku justru sebaliknya. Alasan yang paling utama adalah karena memang disanalah aku bertemu dengan cinta. :)
Dan kebetulan di salah satu acara kami jalan-jalan, salah satu tujuan kami adalah Toko Buku Gramedia yang ada di Matraman, pas juga disana lagi ada semacam bazar gitu, jadi buku-bukunya banyak yang didiskon. Harganya mulai Rp5000. Ya lumayan lah buat kantong mantan mahasiswa :p Salah satu buku yang aku beli adalah mengenai fotografi. Dan ini ada salah satu informasi yang menurut aku menarik, karna aku juga baru tahu. Yaitu mengenai salah satu jenis kamera, yang disebut dengan LOMO (Leninggradskoye Optiko Mechanicheskoye Obyedinenie) Yah aku tahu emang agak ribet kalo mau bacanya.
Model kameranya seperti ini
Jika dalah fotografi, kita harus memperhatikan hal-hal yang teknik, kayak speed, diafragma, angle, pencahayaan, dan juga background. Maka disinilah spesialnya kamera LOMO, kadang kita tidak perlu membidik objek lewat view finder supaya hasil foto lebih tak terduga. Inilah yang menjadi konsep kamera LOMO, mengutamakan sisi kesenangan dalam pengambilan gambar.
Selain itu, keunikan kamera ini juga pada hasil yang tak terduga dalam tiap gambar yang didapatkan. Pada dasarnya LOMO merupakan kamera yang sederhana, kekurangannya justru menjadi kelebihan bagi kamera ini. Kamera LOMO menggunakan media film untuk merekam cahaya, keistimewaannya juga dihasilkan dari rol film atau seluloid yang digunakan, misalnya efek nuansa kemerahan seperti terbakar, hasil gambar yang menumpuk, dan masih banyak efek lainnya.

Sejarah
Pertama kali kamera LOMO ditemukan oleh Jend. Igor Petrowitsch Kornitzky dan Michail Panfilowitsch Panfiloff. Dua orang dari pabrik persenjataan dan alat optik dari Rusia yang kagum pada sebuah kamera unik yang berasal dari Jepang. Keduanya memutuskan untuk mengembangkan kamera tersebut supaya dapat diproduksi kembali dan jadi kebanggaan Uni Soviet. Maka lahirlah Lomo Kompakt Automat (Lomo LC-A) pada tahun 1982. Penjualan kamera ini cukup pesat di berbagai belahan dunia, namun kemudian menurun sejalan dengan berakhirnya masa komunisme.
Sepuluh tahun kemudian, LC-A ditemukan lagi oleh dua orang mahasiswa asal Vienna di daratan Praha-Ceko, yaitu Matthias Fiegl dan Wolfgang Stranzinger. Kemudian mereka mendirikan Lomographic Society (Lomographische Gesellschaft), klub pecinta LOMO yang berbasis di Vienna. Pada tahun 1994, digelar pameran Lomografi pertama di Moskow. Dan sampai saat ini telah ada lebih dari 500.000 penggemar LOMO tergabung di dalamnya, termasuk yang berasal dar Indonesia.

Jenis-jenis LOMO

1. Lomographic Colorsplash Camera
Keistimewaannya adlah flash bermacam warna. Foto yang dihasilkan pun warnanya akan berbeda dari yang tampak di view finder.

2. Lomographic Fish-Eye Camera
Kamera ini mengambil gambar layaknya pandangan mata ikan, berbentuk cembung. Biar efeknya lebih terlihat, sebaiknya digunakan pada objek outdoor.

3. Lomographic Oktomat
LOMO dengan lensa majemuk (8 lensa) yang mengambil gambar secara berurutan dalam waktu tertentu. LOMO lensa majemuk lainnya adalah Action Sampler (4 lensa majemuk membentuk segi empat) dan Super Sampler (4 lensa sejajar)

4. Lomographic Holga
Kamera LOMO medium format yang sangat sederhana, dengan konstruksi kamera yang juga sederhana. Sanggup menghasilkan efek viignettem blur, light leaks, dan distorsi-distorsi lainnya.

5. Lomographic Horizon
Jenis LOMO yang menggunakan lensa swing untuk menghasilkan foto panorama

6. Lomographic Frogeye Underwater
Seperti sifat katak yang merupakan hewan amphibi, kamera ini juga bisa digunakan di daratan maupun di dalam air.


Sumber:
JEPRET! Penduan Fotografi dengan Kamera Digital dan DSLR
(hal 26-28)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar